Pelaut bisa memiliki jadwal kerja yang tampak normal di atas kertas, tetapi tetap kekurangan istirahat. Penyebabnya bermacam-macam: pergantian shift, pekerjaan tambahan ketika kapal sandar, latihan keselamatan, atau panggilan mendadak saat seharusnya tidur. Masalah menjadi lebih serius ketika catatan hours of rest tidak sesuai dengan jam kerja sebenarnya.
Bagi awak dek, mesin, katering, housekeeping, dan departemen lain di kapal, pertanyaannya sama: berapa jam istirahat yang harus diberikan, bagaimana menghitungnya, dan apa yang harus dilakukan jika jadwal itu tidak terpenuhi?
Artikel ini menjawabnya dengan langkah praktis. Pembaca juga akan menemukan contoh jadwal, cara memeriksa periode 24 jam dan tujuh hari, serta contoh kalimat untuk menyampaikan masalah kepada atasan. Dasarnya adalah Maritime Labour Convention, 2006 (MLC) dan ketentuan terkait Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers (STCW). Penerapan akhirnya tetap harus dilihat pada hukum negara bendera kapal, ketentuan perusahaan, perjanjian kerja, dan perjanjian kerja bersama jika ada.
Cek Cepat: Apakah Jam Istirahat Anda Sudah Aman?
- Catat jam mulai dan selesai bekerja, termasuk pekerjaan tambahan setelah shift.
- Periksa apakah tersedia sedikitnya 10 jam istirahat dalam setiap periode 24 jam menurut ketentuan minimum istirahat yang berlaku.
- Periksa apakah terdapat sedikitnya 77 jam istirahat dalam setiap periode tujuh hari untuk ketentuan minimum istirahat yang berlaku, khususnya personel yang tercakup ketentuan STCW.
- Secara umum, istirahat dibagi maksimal dua periode; salah satunya minimal enam jam. Perhatikan pula batas jeda antarmasa istirahat.
- Pastikan log rest hours mencerminkan keadaan sebenarnya, bukan jadwal yang seharusnya terjadi.
- Jika kelelahan berpengaruh pada keselamatan kerja, segera sampaikan kepada penanggung jawab shift.
Daftar ini adalah pemeriksaan awal, bukan pengganti audit kepatuhan. Pengaturan pengecualian yang sah dapat berlaku pada situasi tertentu; karena itu pemeriksaan harus mencakup dokumen kapal, negara bendera, serta tugas awak yang bersangkutan.
Memahami Aturan MLC 2006 dan STCW
MLC 2006 mengatur standar ketenagakerjaan pelaut, sedangkan STCW mengatur standar pelatihan, sertifikasi, dan kelayakan untuk bertugas, termasuk pencegahan kelelahan bagi personel tertentu. Kedua instrumen ini saling melengkapi, tetapi tidak selalu memakai pendekatan yang sama.
Dalam MLC Standard A2.3, negara anggota menetapkan salah satu dasar: batas maksimum jam kerja atau batas minimum jam istirahat. Parameter pokoknya adalah maksimum kerja 14 jam per 24 jam dan 72 jam per tujuh hari, atau minimum istirahat 10 jam per 24 jam dan 77 jam per tujuh hari. Kata “atau” penting: bukan berarti seluruh angka ini selalu menjadi satu paket batas yang identik di semua kapal.
Adapun STCW Code Section A-VIII/1 mengharuskan personel jaga dan mereka yang memegang tugas tertentu terkait keselamatan, keamanan, serta pencegahan pencemaran memperoleh setidaknya 10 jam istirahat dalam 24 jam dan 77 jam dalam tujuh hari, dengan pengecualian terbatas sesuai persyaratan. Di kapal yang tunduk pada beberapa aturan sekaligus, penjadwalan harus mempertimbangkan seluruh ketentuan yang berlaku.
| Aspek | Ketentuan dasar | Apa artinya bagi pelaut? |
|---|---|---|
| Istirahat harian | Minimal 10 jam per 24 jam | Jangan hanya melihat satu tanggal kalender. |
| Istirahat mingguan | Minimal 77 jam per tujuh hari | Perlu menghitung tujuh hari berurutan. |
| Pembagian istirahat | Umumnya maksimal dua periode, satu minimal enam jam | Beberapa jeda singkat tidak otomatis memenuhi ketentuan. |
| Jarak antarperiode istirahat | Umumnya tidak lebih dari 14 jam | Shift panjang tanpa istirahat perlu diperiksa. |
| Catatan jam kerja/istirahat | Harus tersedia dan mencerminkan keadaan nyata | Pekerja berhak memperoleh salinan catatannya sesuai aturan. |
Aturan di atas adalah gambaran umum. Pengecualian yang diizinkan oleh hukum negara bendera atau instrumen terkait perlu diperiksa secara khusus. Jangan menganggap bahwa persetujuan atasan secara lisan dengan sendirinya mengubah ketentuan yang berlaku.
Kesalahan Paling Umum: Menghitung dari Tengah Malam Saja
Dalam praktiknya, pemeriksaan kepatuhan tidak cukup dilakukan dengan menjumlahkan istirahat dari pukul 00.00 sampai 24.00 pada satu tanggal. Frasa “setiap periode 24 jam” menuntut perhatian pada rentang waktu yang bergeser atau rolling period. Misalnya, ketika seseorang selesai bekerja pada pukul 03.00, catatan istirahat sebelum dan sesudah waktu tersebut tetap relevan untuk penilaian periode 24 jam yang mencakup jam kerja itu.
Ini penting terutama bagi night shift, awak yang berganti watch, atau karyawan kapal pesiar yang bekerja dalam dua sesi. Angka pada satu kolom kalender dapat tampak sesuai, padahal rentang 24 jam yang melintasi dua tanggal berbeda tidak memenuhi persyaratan.
Untuk pemeriksaan mandiri, gunakan urutan ini: (1) tuliskan semua periode kerja sesuai waktu kapal; (2) tandai semua periode istirahat yang benar-benar terjadi; (3) periksa beberapa jendela 24 jam yang dimulai dari perubahan shift, awal tugas, atau akhir istirahat; dan (4) lanjutkan dengan jendela tujuh hari. Perangkat lunak pencatatan yang dipakai kapal seharusnya membantu pemeriksaan ini, bukan menggantikan kejujuran saat memasukkan data.
Contoh 1: Istirahat Harian Terpenuhi, Tetapi Mingguan Tidak
Bayangkan seorang awak memiliki jadwal berulang berikut setiap hari:
| Jam | Kegiatan | Durasi |
|---|---|---|
| 00.00–06.00 | Bekerja | 6 jam |
| 06.00–12.00 | Istirahat | 6 jam |
| 12.00–20.00 | Bekerja | 8 jam |
| 20.00–24.00 | Istirahat | 4 jam |
Total istirahatnya 10 jam per hari, terbagi menjadi enam dan empat jam. Namun, jika pola tersebut benar-benar berlangsung setiap hari selama tujuh hari, istirahat hanya berjumlah 70 jam dalam tujuh hari. Artinya, syarat dasar 77 jam istirahat mingguan tidak terpenuhi. Jam kerjanya juga mencapai 98 jam selama tujuh hari, jauh di atas parameter maksimum mingguan pada pendekatan batas jam kerja MLC.
Pelajaran utamanya: lolos hitungan harian tidak menjamin lolos hitungan mingguan. Petugas yang menyusun roster harus mengevaluasi dua rentang tersebut.
Contoh 2: Jadwal yang Memenuhi Parameter Dasar
Contoh sederhana berikut menunjukkan bagaimana dua blok istirahat dapat disusun dalam pola berulang:
| Jam | Kegiatan | Durasi |
|---|---|---|
| 00.00–05.00 | Bekerja | 5 jam |
| 05.00–12.00 | Istirahat | 7 jam |
| 12.00–17.00 | Bekerja | 5 jam |
| 17.00–24.00 | Istirahat | 7 jam |
Dalam pola tujuh hari yang konsisten, awak bekerja 10 jam dan beristirahat 14 jam per hari. Jumlah mingguannya adalah 70 jam kerja dan 98 jam istirahat. Ini memenuhi parameter dasar jam kerja/istirahat yang disebutkan di atas, dengan asumsi tidak ada panggilan tugas, drill, atau pekerjaan tambahan yang mengubah catatan.
Contoh tersebut bukan jadwal wajib atau saran roster untuk seluruh jenis kapal. Operasional jaga, kompetensi awak, kebutuhan keselamatan, perjanjian kerja, serta aturan khusus negara bendera tetap menentukan jadwal yang layak digunakan.
Apakah Makan Siang dan Coffee Break Termasuk Istirahat?
MLC mendefinisikan jam kerja sebagai waktu ketika pelaut diwajibkan bekerja untuk kepentingan kapal. Jam istirahat adalah waktu di luar jam kerja, tetapi tidak mencakup jeda singkat. Karena itu, waktu makan atau rehat perlu dinilai menurut keadaan sebenarnya, durasi, dan aturan yang berlaku; tidak tepat langsung menganggap setiap jeda 10–15 menit sebagai bagian yang memenuhi blok istirahat minimum.
Misalnya, apabila kru diminta tetap berada di pos kerja untuk melayani operasi saat makan atau harus segera melakukan tugas, situasinya tidak sama dengan istirahat yang benar-benar bebas dari pekerjaan. Catatan perlu menggambarkan apa yang terjadi, termasuk jika waktu yang semula dijadwalkan untuk beristirahat ternyata dipakai bekerja.
Jika Dipanggil Saat Tidur, Apa yang Harus Dicatat?
Situasi on call sering terjadi pada awak mesin, awak dek, tenaga medis, teknisi, dan departemen layanan kapal. Panggilan kerja yang memotong waktu istirahat perlu dicatat sesuai kondisi sebenarnya. Bagi personel yang tercakup ketentuan terkait, aturan juga mengenal compensatory rest, yaitu istirahat pengganti ketika waktu istirahat terganggu panggilan kerja.
Contohnya, seorang teknisi dijadwalkan istirahat pukul 20.00–02.00, tetapi menerima panggilan memperbaiki peralatan pukul 23.00–00.30. Waktu 90 menit tersebut adalah tugas kerja, bukan istirahat. Catatan tidak boleh terus menunjukkan istirahat utuh enam jam jika kenyataannya terpotong. Petugas penyusun jadwal harus menilai ulang kebutuhan istirahat berikutnya.
Jangan menambah angka compensatory rest secara fiktif hanya agar formulir tampak memenuhi syarat. Waktu pengganti baru dihitung sebagai istirahat ketika awak benar-benar mendapatkannya.
Bagaimana Jika Ada Drill, Operasi Pelabuhan, atau Keadaan Darurat?
Safety drill, muster, dan operasi ketika kapal tiba atau berangkat dapat mengganggu jadwal awak. MLC dan STCW menekankan bahwa latihan wajib harus diselenggarakan dengan meminimalkan gangguan waktu istirahat dan tidak menimbulkan kelelahan yang membahayakan.
Dalam keadaan darurat nyata yang menyangkut keselamatan kapal, orang di atas kapal, muatan, atau pertolongan terhadap pihak lain di laut, nakhoda memiliki kewenangan meminta pekerjaan yang diperlukan, meskipun jadwal istirahat harus ditangguhkan sementara. Sesudah keadaan kembali normal, istirahat yang memadai harus diatur secepat mungkin sesuai ketentuan.
Hal ini tidak sama dengan alasan “sedang sibuk” yang dipakai terus-menerus sebagai pengganti pengaturan personel. Jika lembur, pekerjaan ekstra, atau perubahan jadwal sudah menjadi pola harian, masalahnya harus dibahas sebagai persoalan pengaturan kerja dan risiko kelelahan, bukan hanya angka dalam tabel.
Cara Membuat Catatan Hours of Rest yang Jujur dan Mudah Diperiksa
Mulailah dari catatan pribadi yang ringkas, tanpa menyalin informasi perusahaan yang rahasia. Gunakan waktu kapal dan tuliskan tanggal serta shift. Isi minimal yang dapat dicatat adalah:
- Tanggal dan waktu: misalnya 28 Oktober, 00.00–06.00.
- Aktivitas: jaga, pekerjaan dek, maintenance, latihan keselamatan, atau panggilan kerja.
- Jam istirahat aktual: catat ketika bebas tugas dan benar-benar memperoleh waktu istirahat.
- Interupsi: waktu mulai dan selesai panggilan mendadak.
- Perubahan roster: siapa yang menyampaikan perubahan dan kapan, secukupnya untuk koreksi resmi.
Bandingkan catatan pribadi dengan formulir atau aplikasi resmi kapal sebelum ditandatangani. MLC mensyaratkan catatan jam kerja atau istirahat dalam format standar dan pemberian salinan catatan yang berkaitan dengan pelaut bersangkutan, disahkan sesuai prosedur oleh pelaut dan nakhoda atau pejabat berwenang.
Jika ada perbedaan, minta koreksi dengan tenang dan secara tertulis. Hindari menandatangani data yang Anda tahu tidak benar tanpa terlebih dahulu mengajukan keberatan atau menggunakan prosedur koreksi yang berlaku. Bila proses perusahaan mewajibkan pengesahan, tanyakan cara mencatat keberatan secara resmi. Simpan bukti secara aman dan patuhi aturan privasi serta keamanan informasi kapal.
Ketika Mengalami Kelelahan, Lakukan Ini Sebelum Terjadi Kecelakaan
Tanda kelelahan tidak selalu berupa kantuk berat. ITF mengingatkan bahwa konsentrasi menurun, respons melambat, penilaian risiko memburuk, dan koordinasi gerak terganggu juga perlu diperhatikan. Kondisi ini sangat berbahaya ketika pekerjaan melibatkan working aloft, pengoperasian crane atau winch, pekerjaan listrik, pengawasan mesin, atau navigasi.
- Nilai apakah Anda masih aman untuk melaksanakan tugas berisiko tinggi.
- Segera beri tahu supervisor atau officer yang bertanggung jawab apabila kelelahan mengganggu kewaspadaan.
- Jelaskan fakta: jam kerja aktual, waktu istirahat terakhir, dan tugas yang akan dikerjakan.
- Minta penilaian risiko, penyesuaian pekerjaan, pergantian personel, atau tambahan istirahat melalui prosedur keselamatan kapal.
- Jika terdapat bahaya langsung, gunakan jalur pelaporan keselamatan yang berlaku dan jangan menunggu sampai terjadi insiden.
Menyampaikan kondisi tidak fit untuk tugas keselamatan bukan berarti menolak tanggung jawab. Tujuannya agar atasan dapat mengambil keputusan operasi berdasarkan informasi yang benar. Ketika situasinya darurat, ikuti instruksi keselamatan dan prosedur kapal sambil tetap mengomunikasikan keterbatasan kondisi fisik.
Jika Catatan Rest Hours Dipaksa Tidak Sesuai Fakta
Kesenjangan antara roster dan jam kerja nyata seharusnya diselesaikan melalui sistem koreksi, bukan dengan mengubah ingatan awak. ITF menyebut pemalsuan catatan waktu kerja dan istirahat sebagai masalah keselamatan karena menutupi kelelahan yang sebenarnya.
MLC Regulation 5.1.5 dan Standard A5.1.5 mengatur prosedur pengaduan di atas kapal. Pelaut berhak memperoleh informasi tentang jalur pengaduan, termasuk kontak otoritas yang relevan, dan terdapat perlindungan terhadap tindakan merugikan pelapor. Prosedur umumnya mengutamakan penyelesaian di tingkat terdekat, tetapi pelaut juga memiliki hak untuk menyampaikan keluhan langsung kepada nakhoda atau otoritas eksternal jika diperlukan.
Langkah yang dapat ditempuh:
- Periksa on-board complaint procedure, DMLC, jadwal kerja yang dipasang, serta ketentuan perjanjian kerja.
- Ajukan permintaan koreksi jam kerja kepada atasan, disertai tanggal dan rentang waktu yang spesifik.
- Bila tidak selesai atau melibatkan atasan langsung, gunakan jalur nakhoda, perwakilan perusahaan di darat, petugas pengaduan, atau jalur eksternal sesuai prosedur.
- Untuk bantuan independen, pertimbangkan serikat pekerja, inspektur ITF, atau otoritas bendera/pelabuhan yang berwenang.
Jangan mengunggah dokumen internal kapal, identitas awak lain, atau bukti yang memuat data pribadi ke media sosial. Jika khawatir terhadap keselamatan atau tindakan balasan, minta nasihat rahasia melalui jalur resmi sebelum menyebarkan informasi.
Contoh Pesan Singkat untuk Meminta Koreksi Jadwal Istirahat
Berikut contoh yang dapat disesuaikan untuk disampaikan kepada supervisor:
Subject: Request to Review Actual Rest Hours
Dear Supervisor, I would like to request a review of my recorded hours of rest for [date]. My scheduled rest period was interrupted by work from [time] to [time]. Please help me correct the record and review the next duty period so that I can perform my duties safely. Thank you.
Pesan tersebut berfokus pada fakta dan keselamatan, bukan tuduhan. Untuk keluhan resmi, ikuti format on-board complaint procedure kapal. Jika terdapat pelanggaran berat atau bahaya langsung, gunakan jalur eskalasi yang sesuai tanpa harus menunggu perdebatan panjang mengenai pencatatan.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan Pelaut
Apakah bekerja 14 jam sehari selalu diperbolehkan?
Tidak otomatis. Angka 14 jam adalah salah satu parameter maksimum kerja dalam 24 jam pada MLC, bukan izin umum untuk menjadwalkan semua awak bekerja selama itu setiap hari. Batas mingguan, pembagian istirahat, STCW, ketentuan negara bendera, dan kontrak tetap harus dipenuhi.
Kalau istirahat 10 jam sehari, apakah pasti sudah sesuai aturan?
Belum tentu. Jumlah tujuh hari, panjang blok istirahat, jendela 24 jam yang melintasi tanggal, serta pengecualian yang berlaku masih harus diperiksa. Contoh jadwal pertama menunjukkan mengapa 10 jam harian tidak cukup untuk menyimpulkan kepatuhan.
Apakah waktu tidur yang terganggu panggilan kerja bisa tetap dicatat sebagai istirahat?
Waktu yang benar-benar digunakan bekerja harus dicatat sebagaimana terjadi. Ketentuan yang berlaku dapat mensyaratkan istirahat pengganti jika jadwal istirahat terputus oleh panggilan kerja.
Apakah awak kapal pesiar dan kapal niaga mempunyai hak istirahat?
Hak atas pengaturan jam kerja dan istirahat merupakan bagian dari standar ketenagakerjaan maritim. Namun cakupan instrumen, penerapan negara bendera, kategori tugas, serta pengecualiannya harus diperiksa untuk setiap kapal dan pekerja.
Ke mana harus melapor jika catatan dipaksa tidak benar?
Mulai dari jalur koreksi dan pengaduan kapal yang resmi, atau langsung gunakan jalur lain yang tersedia bila diperlukan oleh keadaan. Simpan catatan faktual, cari bantuan independen bila perlu, dan utamakan keselamatan serta kerahasiaan data pribadi.
Gunakan Panduan Ini Sebelum Menandatangani Catatan Bulanan
Sebelum menyerahkan formulir, periksa kembali beberapa hari yang paling sibuk: saat kapal tiba, saat sandar, ketika ada drill, dan ketika seseorang menggantikan pekerjaan rekan yang berhalangan. Hitung bukan hanya jumlah jam per hari, tetapi juga blok istirahat, jendela 24 jam yang bergeser, dan total tujuh hari. Pastikan waktu kerja yang menyela tidur tidak hilang dari log.
Jam istirahat bukan sekadar angka administrasi. Catatan yang akurat membantu awak, perwira, dan perusahaan mengidentifikasi risiko sebelum berubah menjadi kecelakaan. Bagi pelaut, mengetahui cara menghitung dan melaporkan waktu istirahat berarti mempunyai alat sederhana untuk menjaga keselamatan diri sendiri dan rekan kerja.
Bacaan terkait: Realitas Jam Kerja di Kapal Pesiar dan Tips Hidup di Kapal. Temukan informasi karier dan panduan pelaut lainnya di Pelaut.KapalPedia.
Rujukan Resmi
- ILO – MLC 2006, Regulation 2.3 dan Standard A2.3
- IMO – Seafarers’ Hours of Work and Rest
- ILO – MLC 2006, Regulation 5.1.5: On-board Complaint Procedures
- ILO – MLC Frequently Asked Questions, 6th edition (2026)
- ITF Seafarers – Fatigue and Accurate Work/Rest Records
Catatan redaksi: Panduan ini bersifat edukatif dan bukan pengganti nasihat hukum, prosedur keselamatan kapal, atau ketentuan negara bendera. Diperiksa berdasarkan rujukan internasional yang tersedia pada 28 Oktober 2026.

